Memori
Biarlah yang ada tetap ada
karena dengan begitulah kata-kata memadu
Biarlah jiwamu tetap menyambung lidahku
agar tiada kata-kata yang terputus
Lantang berkumandang
dalam ketiadaan penat yang mengiba
Biarlah tertulis dan terangkai manis
dalam tiap untaian pengaduan
anak manusia yang tercipta…
Jakarta, 29.04.03
Tuesday, April 29, 2003
Monday, March 24, 2003
Catatan Singkat Tertanggal 24 Maret 2003 (ketika hari telah larut…)
Walaupun kita tersesat dalam ruang waktu yang berbeda,
jangan pernah kau melupakanku,
karena aku telinga bagi semua kisahmu
dan jawaban bagi semua tanyamu…
Kembalilah dan bawa separuh kisahmu bersama diriku…
kan kubawakan separuh kisahku bersamamu…
Jakarta, 24.03.03
Untuk : Margaret Laurens, orang bodoh yang kusayangi…
[your dear friend, always...]
Walaupun kita tersesat dalam ruang waktu yang berbeda,
jangan pernah kau melupakanku,
karena aku telinga bagi semua kisahmu
dan jawaban bagi semua tanyamu…
Kembalilah dan bawa separuh kisahmu bersama diriku…
kan kubawakan separuh kisahku bersamamu…
Jakarta, 24.03.03
Untuk : Margaret Laurens, orang bodoh yang kusayangi…
[your dear friend, always...]
Tuesday, December 31, 2002
Hanya Suatu Sore di Kedai Kopi
Suatu sore,
dimana angin bertiup sangat kencang
dan menghembuskan nafasnya yang dingin,
dimana matahari tak seriang biasanya
dan bersembunyi di balik kawanan awannya,
dimana caramel macchiato
terduduk di atas meja
dan aku menyeruputnya
di atas sofaku yang empuk
di sudut ruangan
bermahkotakan cahaya indah
di balik keremangannya,
dimana musik jazz mengalun lembut
mengiringi cengkerama pria-pria berdasi
dan wanita-wanita bergincu
dengan tebaran senyum lebarnya…
Gambaran penduduk urban
dengan berbagai sensasi gaya hidupnya…
Aku?
Hanya duduk di sudut ruangan,
masih menyeruput caramel macchiatoku,
menikmati datangnya sore di Jakarta…
Hanya kopi, teh, Jawa, dan aku…
inspired by ‘Java Jive’ from Manhattan Transfer
Jakarta?
Ya, tentu saja Jakarta…
pada akhir tahun 2002
Suatu sore,
dimana angin bertiup sangat kencang
dan menghembuskan nafasnya yang dingin,
dimana matahari tak seriang biasanya
dan bersembunyi di balik kawanan awannya,
dimana caramel macchiato
terduduk di atas meja
dan aku menyeruputnya
di atas sofaku yang empuk
di sudut ruangan
bermahkotakan cahaya indah
di balik keremangannya,
dimana musik jazz mengalun lembut
mengiringi cengkerama pria-pria berdasi
dan wanita-wanita bergincu
dengan tebaran senyum lebarnya…
Gambaran penduduk urban
dengan berbagai sensasi gaya hidupnya…
Aku?
Hanya duduk di sudut ruangan,
masih menyeruput caramel macchiatoku,
menikmati datangnya sore di Jakarta…
Hanya kopi, teh, Jawa, dan aku…
inspired by ‘Java Jive’ from Manhattan Transfer
Jakarta?
Ya, tentu saja Jakarta…
pada akhir tahun 2002
Subscribe to:
Posts (Atom)