Saturday, November 25, 2006


Malaikat Tanpa Sayap di Sebuah Pesta

Malaikat mendatangiku semalam di pesta,
dengan sayap dan pakaian putihnya…

Sementara si kurcaci penabuh genderang
bersimpuh membelai seonggok daging yang mengerang,
sesosok malaikat tanpa sayap di sebuah pesta,
di bulan November yang penuh sengketa…

Tertawa, mengerang, terbahak-bahak, mengerang...

Malaikat mendatangiku semalam di pesta,
dengan sayap dan pakaian putihnya…

Ia tanyai mau apa aku…

Dan aku menjawab,
Bangsat!
Aku cuma kepingin terbang…

[25.11.06]

Wednesday, November 22, 2006

Oh Lately It’s So Quiet…

benar juga kata Brian May (gitaris kelompok Queen.red), Too Much Love Will Kill You, yang merupakan judul sebuah lagu yang diambil dari album solonya Back to The Light, Juli 1992.

tenggelam di dalamnya sampai membuat kita sesak napas. dan yang bisa kita lakukan hanya berenang-renang dan menunggu kematian yang bisa sewaktu-waktu menjemput. tapi sampai sekarang sepertinya belum ada yang berhasil menemukan cara untuk mencegah atau menghindarinya. memang tak ada cara lain selain menikmatinya, karena perasaan ini, konon, perasaan getir yang paling indah, yang tak terjadi setiap saat. sebuah anugerah yang paradoks. dan hanya orang-orang terpilih saja yang bisa merasakannya, yang membuka hatinya untuk itu.

Peri Hutan masih melanjutkan perjalanannya yang penuh kesunyian. orang lain mungkin sudah bosan dan memilih pulang ke rumah untuk tidur di tempat tidur yang empuk sambil berharap ketika terbangun keesokan harinya semua yang dialaminya adalah mimpi buruk. tapi Peri Hutan tidak melakukannya. ia menikmatinya. menikmati setiap inci langkah kakinya. meresapi setiap ketenggelamannya. terjebak dan kedinginan di dasar laut.

dan kali ini sepertinya lebih dalam dari sebelumnya. karena Peri Hutan benar-benar terpuruk dan tak tahu bagaimana caranya keluar, seperti pelaut yang kapalnya terombang-ambing terhempas badai. tanpa kompas. tanpa bintang yang selama ini menjadi penuntun arah karena tertutup kabut dan awan tebal. tak ada secercah harapan. entah bagaimana caranya kembali. lagipula hal itu juga sudah tak mungkin lagi ia lakukan, mengingat ia telah meninggalkan semuanya di belakang. dan kembali lagi ke hutan bunga matahari saat ini takkan menyelesaikan masalah. ia hanya akan bersembunyi dan berpura-pura. dari dirinya dan hatinya.

ah, sungguh sepi dan sunyi akhir-akhir ini… mungkin ini adalah saat-saat yang langka, yang tak bisa lagi dinikmatinya di lain waktu ketika badai ini telah berlalu. saat-saat ketika orang di sekitarnya meributkan banyak hal dan Peri Hutan hanya bisa mendengar suara-suara itu dari kejauhan. samar-samar dan jauh dari dirinya dan dunianya yang tak bisa dimasuki oleh siapapun. Peri Hutan kembali terbengang-bengong walaupun kali ini tanpa cengangas-cengenges…

"(Oh no) Oh lately it's so quiet in this place
You're not 'round every corner
(Oh no) Oh lately it's so quiet in this place
So darlin' if you're not here haunting me
I'm wondering...
Whose house, are you haunting tonight?
Aw. Whose sheets you twist
Aw. Whose face you kiss
Whose house, are you haunting tonight?
(Oh no) I dont think much about you anymore
You're not on every whisper, oh
(Oh no) I dont think much about you
But if you're not lurking behind every curtain
I'm wondering..." [*]

[*] Oh Lately It’s So Quiet – OK Go (Oh No Album)

Sunday, November 19, 2006

And The Journey Begins...

perjalanan panjang telah dimulai. sudah tak ada jalan untuk kembali. Peri Hutan melangkahkan kakinya tak tentu arah. tak ada bintang di langit, seolah bersembunyi, tak ingin dilihat oleh Peri Hutan. membiarkan ia berjalan seorang diri dan kesepian di malam yang semakin dingin dan mencekam. “ah, andai aku punya teman seperjalanan!”, batin Peri Hutan. tapi keputusan telah diambil dan menyesal kemudian tak ada gunanya.

akhirnya Peri Hutan sampai di kampung seberang. setelah perjalanan yang cukup melelahkan tentunya. Peri Hutan memutuskan untuk berhenti. selain melepas lelah, ia juga butuh merasakan adanya kehadiran orang lain. untuk meyakinkan dirinya, ia tak seorang diri di dunia ini. walaupun tak satu pun penduduk kampung ini yang ia kenal. hanya dengan melihat mereka saling berinteraksi saja sudah cukup bagi Peri Hutan. setidaknya masih ada kehidupan di sekelilingnya. setidaknya ia takkan mati perlahan-lahan di dalam sepi dan kekosongan.

rupa-rupanya Sore diundang oleh Pak Lurah untuk menghibur penduduk kampung dalam rangka sunatan massal di balai desa. dan seperti biasa Ade Paloh cs. menyanyikan kesenduan malam ini bagi Peri Hutan dengan suara serak. diiringi rintihan saxophone yang terasa semakin mengiris. pedih dan getir.

takkan ada lagi hari di mana ia duduk-duduk menghabiskan sore di ayunan reyotnya sambil menyulam hati barunya. juga hari di mana ia bercerita dengan si Kurcaci Penabuh Genderang sambil makan stik keju kering dan minum susu coklat di pinggir sungai. atau hari di mana ia berguling-guling kesenangan bermain bersama peri-peri bodoh yang ia sayangi.

dan lagu ini melantun merdu mengisi kekosongan di dalam hati Peri Hutan...

“Jauh perjalanan mencari intan pujaan
Aduhai, di mana tuan, mengapa pergi tanpa pamitan?
Lembah kuturuni, bukit yang tinggi kudaki
Aduhai, tak kunjung jumpa mengapa hilang tak tentu rimba?
Embun hempaskanku padanya,
bintang tunjukkan arah,
ooh, angin bisikkanlah malam ini...
Hati cemas bimbang, harapan timbul tenggelam
Aduhai, permata hati mungkinkah kelak berjumpa lagi?”
[*]

[*] Pergi Tanpa Pesan – Sore (Centralismo)