.:Beautiful Trouble:.
Waking up with a cup of coffee
Smoking cigarettes in the balcony
as the sun rises in a beautiful monet sky
with sigur ros' played on the playlists
Beautiful house
Beautiful garden
Beautiful ride
Beautiful stranger
Beautiful kids
Breakfast with Alisha's bacon,
to know we're all living
the beautiful trouble...
[12.01.07]
Friday, January 12, 2007
Thursday, January 11, 2007
Bubuk Ajaib Dinker Shell
“Nenek moyangku seorang pelaut,
gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak tiada takut,
menembus badai sudah biasa
Angin bertiup layar terkembang,
ombak menderu di tepi pantai
Pemuda berani bangkit sekarang,
ke laut kita beramai-ramai!!!”
“Nenek moyangku seorang pelaut,
gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak tiada takut,
menembus badai sudah biasa
Angin bertiup layar terkembang,
ombak menderu di tepi pantai
Pemuda berani bangkit sekarang,
ke laut kita beramai-ramai!!!”
(ini adalah lagu tradisional Indonesia, judulnya “Nenek Moyangku Seorang Pelaut”. Sering dinyanyikan oleh anak-anak dan menjadi salah satu lagu wajib di taman kanak-kanak. Terima kasih buat Swasti untuk liriknya. Memori masa kecil saya kurang bagus. Kamu memang brilian!! Hahaha!!!.red)
Peri Hutan selalu suka pada laut. sejauh mata memandang yang terlihat hanya biru, biru, dan biru. lalu tanpa disadari tiba-tiba pandangan kita sudah beralih pada langit. bagian favoritnya adalah air laut yang berkilauan ditempa sinar matahari. kalau sudah begitu, Peri Hutan pasti lupa akan waktu. untungnya kali ini tak ada yang menggerecokinya untuk segera pulang. ia bebas bermain-main sampai matahari terbenam.
Peri Hutan selalu memiliki ketertarikan yang aneh pada pelaut. mulai dari Donal si bebek berbaju kelasi sampai Kapten Jack Sparrow. tapi setelah dipikir-pikir lagi, pelaut pasti dipuja dan dikelilingi oleh gadis-gadis cantik. dan hampir dapat dipastikan di setiap kota yang mereka singgahi menyimpan kisah cinta sesaat mereka dengan penduduk setempat. ah, tak rela Peri Hutan dimadu. apalagi memberikan hatinya untuk pria yang mengumbar cinta ke mana-mana. lagipula jika dipikir dengan akal sehat, tak ada satupun makhluk di dunia ini yang rela dimadu. sadar atau tidak, hal itu sama sekali tidak manusiawi dan menjadikan kita hanya setengah manusia. karena merengut sebagian rasa kemanusiaan kita yang ingin menjadi satu-satunya bagi seseorang yang kita cintai. dicintai sepenuhnya dan juga diperlakukan istimewa.
ombak mengguncang-guncang kapal yang dinaikinya dan membuat Peri Hutan kepingin muntah. tidak ada lagi nyanyian penuh semangat yang tadi dinyanyikan penuh semangat di awal perjalanan. bisa bernapas saja sudah untung! kenapa sih dia harus mabok laut di tengah perjalanan seperti ini?
perasaannya memburuk manakala teringat ia sedang dalam perjalanan meninggalkan Kurcaci Penabuh Genderang, peri-peri bodoh kesukaannya yang tinggal di negeri aneka-ragam, juga hati barunya yang kini entah berada di mana. tapi Peri Hutan terlalu pengecut untuk menerima kenyataan bahwa suatu saat mereka semua bisa saja meninggalkannya. lebih baik aku saja yang meninggalkan mereka, batin Peri Hutan, masih sambil mual-mual. tentu saja mereka akan merasa sedih, tapi takkan melebihi rasa sedihnya apabila ia yang ditinggalkan. mungkin saja Peri Hutan tak sebegitu berartinya bagi orang-orang yang ia sayangi. ditinggal pergi oleh Peri Hutan takkan membuat hidup mereka kacau balau. tidak seperti kehidupannya yang pasti akan sangat kacau ketika ia harus menerima kenyataan harus kehilangan harapannya satu per satu tanpa tahu kapan dan bagaimana itu akan terjadi. membayangkannya saja sudah membuatnya sesak napas. persis seperti sekarang! ia jadi tidak tahu lagi rasa mualnya itu akibat membayangkan dirinya kehilangan harapan atau memang karena ombak yang semakin menyiksa dan tak bersahabat.
yang Peri Hutan sadari, ia tak akan pernah siap menghadapinya. lebih baik ia yang pergi. setidaknya ia pergi dengan membawa kenangan manis akan orang-orang yang disayanginya. walaupun berulang kali Kurcaci Penabuh Genderang selalu meyakinkan dirinya bahwa semua sayang padanya. dan semua khawatir jika sesuatu yang buruk menimpanya. tapi dasar Peri Hutan memang keras kepala, ia susah percaya kalau hanya diberi tahu.
kalau sudah begitu ingin rasanya ia menghilang saja. lenyap seperti buih-buih yang menguap di udara. atau seperti gelembung-gelembung sabun yang ditiup anak-anak di padang rumput. berguna sesaat lalu tiada. hidup rasanya jauh lebih menyenangkan ketika kita bisa terbang. ringan seperti bulu bagai tak ada beban.
akhirnya kapal yang ditumpangi Peri Hutan menepi di pantai. Peri Hutan keluar dari kapal sambil terhuyung-huyung. lalu tersungkur di pasir. tak sadarkan diri.
Ngiiiiiiinggggg……
“Hey, bodoh! Ayo bangun! Kita main bersama!!!”
Ngiiiiiiingggggg……
“Arghhh, apaan sih??!!”, Peri Hutan berusaha menghalau sesuatu yang terbang-terbang di depan wajahnya, mengganggu tidurnya.
“Hihihi, dasar bodoh! Ayo bangun, kita terbang dan main bersama di kumpulan awan!”, kata suara itu lagi.
Peri Hutan membuka sebelah matanya. ogah-ogahan.
“Hah? Siapa kau?”, Peri Hutan terkejut melihat peri yang terbang di sekitarnya.
“Aku Dinker Shell, penghuni pantai ini!”, jawab peri kecil yang sedari tadi terbang-terbang mengelilingi Peri Hutan yang tak sadarkan diri.
“Hai, Dinker Shell…”, sapa Peri Hutan sambil malas-malasan. “Namaku Peri Hutan.”
“Ayo kita main ke sana, Peri Hutan!!!”, ajak Dinker Shell bersemangat, sambil menunjuk ke kumpulan awan di langit.
“Dasar bodoh! Bagaimana caranya aku ke sana??? Aku kan tidak punya sayap!”, protes Peri Hutan kesal.
“Hihihi… Peri macam apa kau? Masak tidak punya sayap???!!”, ledek Dinker Shell sambil terkikik geli.
Peri Hutan merengut sambil bersungut-sungut.
“Hehehe, maaf maaf… Jangan marah donk. Nih, aku punya bubuk ajaib yang bisa membuat tubuhmu ringan seperti bulu. Bubuk ini tinggal kau sebarkan ke seluruh tubuhmu, kau langsung bisa terbang sepertiku walaupun tanpa sayap. Pastinya jauh lebih enak daripada makan rumput yang pahit atau mabok laut.”, bujuk Dinker Shell sambil mengedipkan mata kirinya.
mata Peri Hutan langsung berbinar-binar. botol kecil berisi bubuk ajaib itu langsung dirampasnya dari tangan Dinker Shell dan disebarkan ke seluruh tubuhnya. Peri Hutan selalu ingin terbang ke angkasa. benar saja, tubuhnya jadi seringan bulu. berhari-hari Peri Hutan bermain-main petak-umpet dan jumpalitan di tumpukan awan bersama Dinker Shell.
“I am thinking it's a sign,
that the freckles in our eyes are mirror images
and when we kiss they're perfectly aligned.
And I have to speculate that God himself
did make us into corresponding shapes like puzzle pieces from the clay.
True, it may seem like a stretch,
but its thoughts like this that catch my troubled head
when you're away when I am missing you to death
when you are out there on the road for several weeks of shows
and when you scan the radio,
I hope this song will guide you home…
They will see us waving from such great heights,
'come down now', they'll say…
But everything looks perfect from far away,
'come down now', but we'll stay...” [*]
tiba-tiba ada suara yang dikenalnya, memanggil-manggil namanya dari bawah. rupa-rupanya si Kurcaci Penabuh Genderang dan Serpina Sipirili yang menyusul dirinya. tapi Peri Hutan tak menggubris mereka karena terlalu asyik balapan dengan layangan pantai lebar yang ada buntutnya, yang dimainkan oleh seorang anak nelayan.
“Peri Hutan, ayo kita pulang… Aku janji takkan ada lagi orang yang menjahatimu. Tidak si Sigung Muka Dua, Tante Kelinci Mulut Usil, atau yang lainnya yang mirip-mirip dengan si Buncit Keparat. Kalau nanti mereka brengsek lagi akan kutusuk-tusuk dengan stik drum-ku. Persis seperti kau menusuk-nusuk perut si Buncit dulu. Aku sungguh-sungguh Peri Hutan… Nanti kau kubuatkan ayunan besar dengan tenda untuk menggantikan ayunan reyotmu.”, bujuk Kurcaci Penabuh Genderang dengan wajah sedih karena sahabatnya tak kunjung berniat untuk turun.
“Iya Peri Hutan, nanti kau kuhibur dengan tarian baruku…”, kata Serpina Sipirili sambil menggandeng tangan Kurcaci Penabuh Genderang dengan muka murung. ia sedih karena biasanya Peri Hutan selalu antusias bertemu dengannya.
“TIDAK MAUUUUUUUUUUU!!!!! AKU TIDAK MAU TURUN!!!! Aku suka di atas sini, semuanya terlihat kecil seperti upil. Rasanya menyenangkan, apalagi kalau aku bisa menyentil mereka sampai mental. Lagipula aku sedang asyik balapan dengan layangan berbuntut. POKOKNYA AKU TIDAK MAU TURUUUUUN!!!”, jerit Peri Hutan sambil meronta-ronta di atas layang-layang berbuntut itu.
“Ayolah Peri Hutan… Nanti siapa yang menjahitkan drum buluk-ku kalau sobek-sobek lagi?”, bujuk Kurcaci Penabuh Genderang lagi, mencoba peruntungan.
“MASA BODOH!!!! Biar saja genderang buluk-mu sobek-sobek! AKU TIDAK MAU MENJAHIT LAGI!!! Aku capek! CAPEK! CAPEK! CAPEK! Hu..huu..huuu…”, teriak Peri Hutan, kali ini sambil menangis tersedu-sedu.
Kurcaci Penabuh Genderang dan Serpina Sipirili hanya bisa memandang sedih Peri Hutan yang menembus awan, dari kejauhan.
[*] Such Great Heights – The Postal Service (Give Up)
Peri Hutan selalu suka pada laut. sejauh mata memandang yang terlihat hanya biru, biru, dan biru. lalu tanpa disadari tiba-tiba pandangan kita sudah beralih pada langit. bagian favoritnya adalah air laut yang berkilauan ditempa sinar matahari. kalau sudah begitu, Peri Hutan pasti lupa akan waktu. untungnya kali ini tak ada yang menggerecokinya untuk segera pulang. ia bebas bermain-main sampai matahari terbenam.
Peri Hutan selalu memiliki ketertarikan yang aneh pada pelaut. mulai dari Donal si bebek berbaju kelasi sampai Kapten Jack Sparrow. tapi setelah dipikir-pikir lagi, pelaut pasti dipuja dan dikelilingi oleh gadis-gadis cantik. dan hampir dapat dipastikan di setiap kota yang mereka singgahi menyimpan kisah cinta sesaat mereka dengan penduduk setempat. ah, tak rela Peri Hutan dimadu. apalagi memberikan hatinya untuk pria yang mengumbar cinta ke mana-mana. lagipula jika dipikir dengan akal sehat, tak ada satupun makhluk di dunia ini yang rela dimadu. sadar atau tidak, hal itu sama sekali tidak manusiawi dan menjadikan kita hanya setengah manusia. karena merengut sebagian rasa kemanusiaan kita yang ingin menjadi satu-satunya bagi seseorang yang kita cintai. dicintai sepenuhnya dan juga diperlakukan istimewa.
ombak mengguncang-guncang kapal yang dinaikinya dan membuat Peri Hutan kepingin muntah. tidak ada lagi nyanyian penuh semangat yang tadi dinyanyikan penuh semangat di awal perjalanan. bisa bernapas saja sudah untung! kenapa sih dia harus mabok laut di tengah perjalanan seperti ini?
perasaannya memburuk manakala teringat ia sedang dalam perjalanan meninggalkan Kurcaci Penabuh Genderang, peri-peri bodoh kesukaannya yang tinggal di negeri aneka-ragam, juga hati barunya yang kini entah berada di mana. tapi Peri Hutan terlalu pengecut untuk menerima kenyataan bahwa suatu saat mereka semua bisa saja meninggalkannya. lebih baik aku saja yang meninggalkan mereka, batin Peri Hutan, masih sambil mual-mual. tentu saja mereka akan merasa sedih, tapi takkan melebihi rasa sedihnya apabila ia yang ditinggalkan. mungkin saja Peri Hutan tak sebegitu berartinya bagi orang-orang yang ia sayangi. ditinggal pergi oleh Peri Hutan takkan membuat hidup mereka kacau balau. tidak seperti kehidupannya yang pasti akan sangat kacau ketika ia harus menerima kenyataan harus kehilangan harapannya satu per satu tanpa tahu kapan dan bagaimana itu akan terjadi. membayangkannya saja sudah membuatnya sesak napas. persis seperti sekarang! ia jadi tidak tahu lagi rasa mualnya itu akibat membayangkan dirinya kehilangan harapan atau memang karena ombak yang semakin menyiksa dan tak bersahabat.
yang Peri Hutan sadari, ia tak akan pernah siap menghadapinya. lebih baik ia yang pergi. setidaknya ia pergi dengan membawa kenangan manis akan orang-orang yang disayanginya. walaupun berulang kali Kurcaci Penabuh Genderang selalu meyakinkan dirinya bahwa semua sayang padanya. dan semua khawatir jika sesuatu yang buruk menimpanya. tapi dasar Peri Hutan memang keras kepala, ia susah percaya kalau hanya diberi tahu.
kalau sudah begitu ingin rasanya ia menghilang saja. lenyap seperti buih-buih yang menguap di udara. atau seperti gelembung-gelembung sabun yang ditiup anak-anak di padang rumput. berguna sesaat lalu tiada. hidup rasanya jauh lebih menyenangkan ketika kita bisa terbang. ringan seperti bulu bagai tak ada beban.
akhirnya kapal yang ditumpangi Peri Hutan menepi di pantai. Peri Hutan keluar dari kapal sambil terhuyung-huyung. lalu tersungkur di pasir. tak sadarkan diri.
***
Ngiiiiiiinggggg……
“Hey, bodoh! Ayo bangun! Kita main bersama!!!”
Ngiiiiiiingggggg……
“Arghhh, apaan sih??!!”, Peri Hutan berusaha menghalau sesuatu yang terbang-terbang di depan wajahnya, mengganggu tidurnya.
“Hihihi, dasar bodoh! Ayo bangun, kita terbang dan main bersama di kumpulan awan!”, kata suara itu lagi.
Peri Hutan membuka sebelah matanya. ogah-ogahan.
“Hah? Siapa kau?”, Peri Hutan terkejut melihat peri yang terbang di sekitarnya.
“Aku Dinker Shell, penghuni pantai ini!”, jawab peri kecil yang sedari tadi terbang-terbang mengelilingi Peri Hutan yang tak sadarkan diri.
“Hai, Dinker Shell…”, sapa Peri Hutan sambil malas-malasan. “Namaku Peri Hutan.”
“Ayo kita main ke sana, Peri Hutan!!!”, ajak Dinker Shell bersemangat, sambil menunjuk ke kumpulan awan di langit.
“Dasar bodoh! Bagaimana caranya aku ke sana??? Aku kan tidak punya sayap!”, protes Peri Hutan kesal.
“Hihihi… Peri macam apa kau? Masak tidak punya sayap???!!”, ledek Dinker Shell sambil terkikik geli.
Peri Hutan merengut sambil bersungut-sungut.
“Hehehe, maaf maaf… Jangan marah donk. Nih, aku punya bubuk ajaib yang bisa membuat tubuhmu ringan seperti bulu. Bubuk ini tinggal kau sebarkan ke seluruh tubuhmu, kau langsung bisa terbang sepertiku walaupun tanpa sayap. Pastinya jauh lebih enak daripada makan rumput yang pahit atau mabok laut.”, bujuk Dinker Shell sambil mengedipkan mata kirinya.
mata Peri Hutan langsung berbinar-binar. botol kecil berisi bubuk ajaib itu langsung dirampasnya dari tangan Dinker Shell dan disebarkan ke seluruh tubuhnya. Peri Hutan selalu ingin terbang ke angkasa. benar saja, tubuhnya jadi seringan bulu. berhari-hari Peri Hutan bermain-main petak-umpet dan jumpalitan di tumpukan awan bersama Dinker Shell.
“I am thinking it's a sign,
that the freckles in our eyes are mirror images
and when we kiss they're perfectly aligned.
And I have to speculate that God himself
did make us into corresponding shapes like puzzle pieces from the clay.
True, it may seem like a stretch,
but its thoughts like this that catch my troubled head
when you're away when I am missing you to death
when you are out there on the road for several weeks of shows
and when you scan the radio,
I hope this song will guide you home…
They will see us waving from such great heights,
'come down now', they'll say…
But everything looks perfect from far away,
'come down now', but we'll stay...” [*]
***
tiba-tiba ada suara yang dikenalnya, memanggil-manggil namanya dari bawah. rupa-rupanya si Kurcaci Penabuh Genderang dan Serpina Sipirili yang menyusul dirinya. tapi Peri Hutan tak menggubris mereka karena terlalu asyik balapan dengan layangan pantai lebar yang ada buntutnya, yang dimainkan oleh seorang anak nelayan.
“Peri Hutan, ayo kita pulang… Aku janji takkan ada lagi orang yang menjahatimu. Tidak si Sigung Muka Dua, Tante Kelinci Mulut Usil, atau yang lainnya yang mirip-mirip dengan si Buncit Keparat. Kalau nanti mereka brengsek lagi akan kutusuk-tusuk dengan stik drum-ku. Persis seperti kau menusuk-nusuk perut si Buncit dulu. Aku sungguh-sungguh Peri Hutan… Nanti kau kubuatkan ayunan besar dengan tenda untuk menggantikan ayunan reyotmu.”, bujuk Kurcaci Penabuh Genderang dengan wajah sedih karena sahabatnya tak kunjung berniat untuk turun.
“Iya Peri Hutan, nanti kau kuhibur dengan tarian baruku…”, kata Serpina Sipirili sambil menggandeng tangan Kurcaci Penabuh Genderang dengan muka murung. ia sedih karena biasanya Peri Hutan selalu antusias bertemu dengannya.
“TIDAK MAUUUUUUUUUUU!!!!! AKU TIDAK MAU TURUN!!!! Aku suka di atas sini, semuanya terlihat kecil seperti upil. Rasanya menyenangkan, apalagi kalau aku bisa menyentil mereka sampai mental. Lagipula aku sedang asyik balapan dengan layangan berbuntut. POKOKNYA AKU TIDAK MAU TURUUUUUN!!!”, jerit Peri Hutan sambil meronta-ronta di atas layang-layang berbuntut itu.
“Ayolah Peri Hutan… Nanti siapa yang menjahitkan drum buluk-ku kalau sobek-sobek lagi?”, bujuk Kurcaci Penabuh Genderang lagi, mencoba peruntungan.
“MASA BODOH!!!! Biar saja genderang buluk-mu sobek-sobek! AKU TIDAK MAU MENJAHIT LAGI!!! Aku capek! CAPEK! CAPEK! CAPEK! Hu..huu..huuu…”, teriak Peri Hutan, kali ini sambil menangis tersedu-sedu.
Kurcaci Penabuh Genderang dan Serpina Sipirili hanya bisa memandang sedih Peri Hutan yang menembus awan, dari kejauhan.
[*] Such Great Heights – The Postal Service (Give Up)
Monday, December 25, 2006
Peri Rambut Pelangi si Pencuri Natal
“Where do we go from here?
The words are coming out all weird
Where are you now, when I need you...
I need to wash myself again to hide all the dirt and pain
Who are my real friends?
We don't have any real friends
I wish it was the sixties, I wish I could be happy
I wish, I wish, I wish that something would happen” [*]
[*] The Bends – Radiohead (The Bends)
N.B : Merry Christmas everyone...
NATAL. semuanya tentang kue stik keju kering. makanan enak. pohon besar dengan lampu neon kelap-kelip. baju baru yang bagus. hadiah yang menggunung. Opa Sinterklas dengan janggut putih yang panjang dan lebat.
biasanya hari Natal selalu disambut antusias dengan mata berbinar-binar oleh Peri Hutan. ia selalu suka dengan suasana malam Natal di mana lampu neon berkelap-kelip warna-warni di jalan raya. cahaya lilin kekuningan yang menghangatkan ruangan yang lembab akibat hujan sepanjang hari. menghirup bau rumput sehabis hujan yang bercampur di udara. suara-suara keriaan di saat Natal yang selalu dikenalnya, selalu dinantinya. suara orang-orang yang dikasihinya berkumpul di dalam suatu ruangan. penuh canda tawa dan harapan-harapan baru.
namun kini suara-suara yang didengarnya terasa asing. rasanya seperti sayup-sayup jauh di luar sana dan Peri Hutan merasa sangat kecil dan kesepian. ia tak lagi peduli akan kue stik keju kering. tak mau makan makanan enak. tak ingin menghias pohon Natal dengan hiasan dan lampu kelap-kelip. juga tidak berminat dengan baju baru dan hadiah yang menggunung.
sebenarnya, Natal nyaris tak berarti lagi semenjak Peri Hutan pertama kali dikecewakan di hari yang konon, kata banyak orang membawa keajaiban bagi mereka yang percaya. di hari yang penuh keajaiban itu, sebelas tahun yang lalu, Peri Hutan terpaksa menelan kenyataan pahit bahwa tak ada yang bisa kita percayai selain diri kita sendiri. bahkan pertalian darah pun terkadang tak bisa meluluhkan fitnah dan pengkhianatan. dan dari situlah segala kehancuran bermula, berbagai penyakit mulai menggerogot. menyerang fisik dan juga mental. juga kenyataan bahwa banyak orang yang disayanginya masing-masing telah memiliki kehidupan sendiri sekarang.
dan kini, semenjak kepergian kakeknya, Natal benar-benar sudah mati di hati Peri Hutan. walaupun terkadang ia masih berusaha untuk percaya bahwa mukjizat itu memang ada. seperti sekarang, ketika Peri Hutan sangat mengharapkan kehadiran hati barunya. untuk merayakan Natal bersama, supaya Natal tahun ini tak sesepi Natal biasanya.
Peri Hutan langsung berlari dan melompat ke atas pangkuan Opa Sinterklas yang janggutnya putih dan tebal, ketika ia menemukan sosok legendaris itu sedang duduk di pusat kota dengan banyak anak kecil yang mengantri untuk mendapatkan hadiah darinya.
“Hohoho, gadis manis... Mengapa kau tidak mengantri?”, tanya si Opa Sinterklas berjaket merah dengan tawa khasnya. anak-anak kecil lainnya yang sedari tadi mengantri dengan manis mulai meringis menahan tangis. tak rela antriannya direbut. bayang-bayang hadiah yang sudah di depan mata pun terpaksa tertunda.
Peri Hutan tersenyum lebar. ia berusaha memberikan senyuman termanis yang dimilikinya untuk membuat hati si Opa Sinterklas luluh.
“Ah, baiklah... Cepat saja ya, opa masih punya banyak pekerjaan. Masih banyak anak kecil yang mengantri.”, akhirnya Opa Sinterklas, yang untungnya kali ini tidak ditemani Pit Hitam, luluh.
“Asiiiiikkkk....!!!”, pekik Peri Hutan yang terkadang licik ini kegirangan. “Peri Hutan dapat hadiah apa, opa?”, tanyanya sambil memeluk janggut putih Opa Sinterklas, karena lengannya tidak sampai untuk memeluk sosok raksasa tambun si Opa Santa, yang konon jelmaan dari Santo Nicholas dan berasal dari Myra, Turki.
“Hohoho... Peri Hutan... Coba opa lihat catatan opa dulu ya...”, jawab kakek raksasa ini sembari membetulkan letak kacamata bacanya.
“Ah, Peri Hutan... Kau nakal sekali selama setahun ini.”, gumam Opa Sinterklas sambil mendelik ke arah Peri Hutan. “Di dalam catatan opa, kau memburai isi perut si Jagoan Perut Buncit. Kemudian menjambak rambut Peri Gigi sampai copot. Lalu membakar seisi Neverland sampai hangus dan rata dengan tanah. Ckckck, nakal sekali...”, Opa Sinterklas terheran-heran sambil geleng-geleng kepala.
“Nggg... Anu... Itu... Nggg... Aku... Aku tidak sengaja, opa...”, bela Peri Hutan sambil menyatukan kedua telunjuknya. ini biasa dilakukannya ketika ia merasa terpojok dan tak mampu lagi berbuat apa-apa.
“TIDAK SENGAJA???!! Bagaimana mungkin memburai, menjambak, dan membakar kau bilang tidak sengajaaaa??”, hardik Opa Sinterklas yang sudah terbiasa menghadapi anak-anak nakal semacam Peri Hutan.
...
“Hohoho, tapi ya sudahlah... Kau masih harus banyak belajar bagaimana caranya mengendalikan emosimu. Jangan kau ulangi lagi kenakalanmu di tahun depan yah, Peri Hutan yang manis...”, suara menggelegar Opa Sinterklas memecah keheningan. Ia berpesan kepada Peri Hutan sambil menepuk-nepuk kepalanya. Opa sinterklas yang bijaksana, membuat Peri Hutan teringat akan sosok kakeknya yang telah tiada.
“Iya opa... Aku janji takkan nakal lagi. Tapi aku tetap dapat hadiah Natal kan?”, tanya Peri Hutan harap-harap cemas.
“Tentu saja, gadis manis. Di dalam daftar hadiahku, kau mendapatkan... kompas! Supaya kau tidak perlu repot-repot membaca peta dan khawatir tersesat di dalam perjalananmu”, seru Opa Sinterklas sambil menyodorkan kompas mungil berwarna kuning yang telah berhasil ia temukan di dalam karung hadiahnya sambil tersenyum lebar.
“Kompas???!!! Aku dapat... kompas? Tidak bolehkah aku minta hati baruku, opa?”, pinta Peri Hutan sambil memelas.
”Hati barumu?? Ah, sepertinya hati barumu sudah opa berikan kepada orang lain beberapa jam yang lalu. Pada siapa ya? Hmmmm, ah ya! Hati barumu itu sudah opa berikan pada Peri Rambut Pelangi, Peri Hutan...”, jawab Opa Sinterklas sambil mengelus rambut Peri Hutan yang bergelombang.
“...”, Peri Hutan memegang kompas pemberian Opa Sinterklas dengan mulut bergetar menahan tangis. ia tak menyangka hati barunya secepat itu sudah berada di tangan peri lain. ia pikir hati barunya masih setia menantinya di padang rumput di hutan bunga matahari. menanti Peri Hutan hingga mampu mengalahkan pergulatan batinnya sendiri, berdamai dengan masa lalunya.
“Peri Hutan? Sudah yah, opa masih harus membagikan hadiah-hadiah ini untuk anak-anak yang lain.”, tegur Opa Sinterklas melihat Peri Hutan yang sedari tadi melamun di pangkuannya. terdengar rengek tangis bocah-bocah yang mulai tak sabar untuk segera duduk di pangkuan sang kakek raksasa, menerima hadiah Natalnya.
“Ah, iya..iya... Terima kasih untuk kompasnya opa! Dadah...”, seru Peri Hutan sambil melompat turun dari pangkuan Opa Sinterklas, berusaha untuk tidak menangis di depan si kakek raksasa yang telah baik hati memberikannya hadiah Natal, padahal ia sudah sangat nakal selama setahun ini.
Peri Hutan kemudian melanjutkan perjalanannya dengan langkah gontai. untuk kesekian kalinya, ia terpaksa menelan kekecewaan ini lagi sendirian. dan kali ini gara-gara si Peri Rambut Pelangi yang telah mencuri Natal-nya. Natal malam ini terasa jauh lebih sepi dibanding tahun-tahun sebelumnya. di trotoar, seorang pemusik jalanan memainkan lagu “Have Yourself a Merry Little Christmas” dengan saxophone-nya.
ya, ya, ya... have yourself a merry little christmas, Peri Hutan...
biasanya hari Natal selalu disambut antusias dengan mata berbinar-binar oleh Peri Hutan. ia selalu suka dengan suasana malam Natal di mana lampu neon berkelap-kelip warna-warni di jalan raya. cahaya lilin kekuningan yang menghangatkan ruangan yang lembab akibat hujan sepanjang hari. menghirup bau rumput sehabis hujan yang bercampur di udara. suara-suara keriaan di saat Natal yang selalu dikenalnya, selalu dinantinya. suara orang-orang yang dikasihinya berkumpul di dalam suatu ruangan. penuh canda tawa dan harapan-harapan baru.
namun kini suara-suara yang didengarnya terasa asing. rasanya seperti sayup-sayup jauh di luar sana dan Peri Hutan merasa sangat kecil dan kesepian. ia tak lagi peduli akan kue stik keju kering. tak mau makan makanan enak. tak ingin menghias pohon Natal dengan hiasan dan lampu kelap-kelip. juga tidak berminat dengan baju baru dan hadiah yang menggunung.
sebenarnya, Natal nyaris tak berarti lagi semenjak Peri Hutan pertama kali dikecewakan di hari yang konon, kata banyak orang membawa keajaiban bagi mereka yang percaya. di hari yang penuh keajaiban itu, sebelas tahun yang lalu, Peri Hutan terpaksa menelan kenyataan pahit bahwa tak ada yang bisa kita percayai selain diri kita sendiri. bahkan pertalian darah pun terkadang tak bisa meluluhkan fitnah dan pengkhianatan. dan dari situlah segala kehancuran bermula, berbagai penyakit mulai menggerogot. menyerang fisik dan juga mental. juga kenyataan bahwa banyak orang yang disayanginya masing-masing telah memiliki kehidupan sendiri sekarang.
dan kini, semenjak kepergian kakeknya, Natal benar-benar sudah mati di hati Peri Hutan. walaupun terkadang ia masih berusaha untuk percaya bahwa mukjizat itu memang ada. seperti sekarang, ketika Peri Hutan sangat mengharapkan kehadiran hati barunya. untuk merayakan Natal bersama, supaya Natal tahun ini tak sesepi Natal biasanya.
Peri Hutan langsung berlari dan melompat ke atas pangkuan Opa Sinterklas yang janggutnya putih dan tebal, ketika ia menemukan sosok legendaris itu sedang duduk di pusat kota dengan banyak anak kecil yang mengantri untuk mendapatkan hadiah darinya.
“Hohoho, gadis manis... Mengapa kau tidak mengantri?”, tanya si Opa Sinterklas berjaket merah dengan tawa khasnya. anak-anak kecil lainnya yang sedari tadi mengantri dengan manis mulai meringis menahan tangis. tak rela antriannya direbut. bayang-bayang hadiah yang sudah di depan mata pun terpaksa tertunda.
Peri Hutan tersenyum lebar. ia berusaha memberikan senyuman termanis yang dimilikinya untuk membuat hati si Opa Sinterklas luluh.
“Ah, baiklah... Cepat saja ya, opa masih punya banyak pekerjaan. Masih banyak anak kecil yang mengantri.”, akhirnya Opa Sinterklas, yang untungnya kali ini tidak ditemani Pit Hitam, luluh.
“Asiiiiikkkk....!!!”, pekik Peri Hutan yang terkadang licik ini kegirangan. “Peri Hutan dapat hadiah apa, opa?”, tanyanya sambil memeluk janggut putih Opa Sinterklas, karena lengannya tidak sampai untuk memeluk sosok raksasa tambun si Opa Santa, yang konon jelmaan dari Santo Nicholas dan berasal dari Myra, Turki.
“Hohoho... Peri Hutan... Coba opa lihat catatan opa dulu ya...”, jawab kakek raksasa ini sembari membetulkan letak kacamata bacanya.
“Ah, Peri Hutan... Kau nakal sekali selama setahun ini.”, gumam Opa Sinterklas sambil mendelik ke arah Peri Hutan. “Di dalam catatan opa, kau memburai isi perut si Jagoan Perut Buncit. Kemudian menjambak rambut Peri Gigi sampai copot. Lalu membakar seisi Neverland sampai hangus dan rata dengan tanah. Ckckck, nakal sekali...”, Opa Sinterklas terheran-heran sambil geleng-geleng kepala.
“Nggg... Anu... Itu... Nggg... Aku... Aku tidak sengaja, opa...”, bela Peri Hutan sambil menyatukan kedua telunjuknya. ini biasa dilakukannya ketika ia merasa terpojok dan tak mampu lagi berbuat apa-apa.
“TIDAK SENGAJA???!! Bagaimana mungkin memburai, menjambak, dan membakar kau bilang tidak sengajaaaa??”, hardik Opa Sinterklas yang sudah terbiasa menghadapi anak-anak nakal semacam Peri Hutan.
...
“Hohoho, tapi ya sudahlah... Kau masih harus banyak belajar bagaimana caranya mengendalikan emosimu. Jangan kau ulangi lagi kenakalanmu di tahun depan yah, Peri Hutan yang manis...”, suara menggelegar Opa Sinterklas memecah keheningan. Ia berpesan kepada Peri Hutan sambil menepuk-nepuk kepalanya. Opa sinterklas yang bijaksana, membuat Peri Hutan teringat akan sosok kakeknya yang telah tiada.
“Iya opa... Aku janji takkan nakal lagi. Tapi aku tetap dapat hadiah Natal kan?”, tanya Peri Hutan harap-harap cemas.
“Tentu saja, gadis manis. Di dalam daftar hadiahku, kau mendapatkan... kompas! Supaya kau tidak perlu repot-repot membaca peta dan khawatir tersesat di dalam perjalananmu”, seru Opa Sinterklas sambil menyodorkan kompas mungil berwarna kuning yang telah berhasil ia temukan di dalam karung hadiahnya sambil tersenyum lebar.
“Kompas???!!! Aku dapat... kompas? Tidak bolehkah aku minta hati baruku, opa?”, pinta Peri Hutan sambil memelas.
”Hati barumu?? Ah, sepertinya hati barumu sudah opa berikan kepada orang lain beberapa jam yang lalu. Pada siapa ya? Hmmmm, ah ya! Hati barumu itu sudah opa berikan pada Peri Rambut Pelangi, Peri Hutan...”, jawab Opa Sinterklas sambil mengelus rambut Peri Hutan yang bergelombang.
“...”, Peri Hutan memegang kompas pemberian Opa Sinterklas dengan mulut bergetar menahan tangis. ia tak menyangka hati barunya secepat itu sudah berada di tangan peri lain. ia pikir hati barunya masih setia menantinya di padang rumput di hutan bunga matahari. menanti Peri Hutan hingga mampu mengalahkan pergulatan batinnya sendiri, berdamai dengan masa lalunya.
“Peri Hutan? Sudah yah, opa masih harus membagikan hadiah-hadiah ini untuk anak-anak yang lain.”, tegur Opa Sinterklas melihat Peri Hutan yang sedari tadi melamun di pangkuannya. terdengar rengek tangis bocah-bocah yang mulai tak sabar untuk segera duduk di pangkuan sang kakek raksasa, menerima hadiah Natalnya.
“Ah, iya..iya... Terima kasih untuk kompasnya opa! Dadah...”, seru Peri Hutan sambil melompat turun dari pangkuan Opa Sinterklas, berusaha untuk tidak menangis di depan si kakek raksasa yang telah baik hati memberikannya hadiah Natal, padahal ia sudah sangat nakal selama setahun ini.
Peri Hutan kemudian melanjutkan perjalanannya dengan langkah gontai. untuk kesekian kalinya, ia terpaksa menelan kekecewaan ini lagi sendirian. dan kali ini gara-gara si Peri Rambut Pelangi yang telah mencuri Natal-nya. Natal malam ini terasa jauh lebih sepi dibanding tahun-tahun sebelumnya. di trotoar, seorang pemusik jalanan memainkan lagu “Have Yourself a Merry Little Christmas” dengan saxophone-nya.
ya, ya, ya... have yourself a merry little christmas, Peri Hutan...
“Where do we go from here?
The words are coming out all weird
Where are you now, when I need you...
I need to wash myself again to hide all the dirt and pain
Who are my real friends?
We don't have any real friends
I wish it was the sixties, I wish I could be happy
I wish, I wish, I wish that something would happen” [*]
[*] The Bends – Radiohead (The Bends)
N.B : Merry Christmas everyone...
Subscribe to:
Posts (Atom)