Saturday, July 28, 2007

Memeluk Matahari Pagi di Sirkus Raksasa Borgetti




Peri Hutan berlarian kecil di atas permadani sirkus tanpa alas kaki. di sekelilingnya penghuni Sirkus Borgetti sedang sibuk berlatih, mempersiapkan atraksi mereka untuk acara akbar nanti malam. sesekali ia berjingkat-jingkat sambil bersiul atau bersenandung riang. hatinya terasa seringan langkah kakinya.

“Halo Peri Hutan! Apa kabar?” seru Badut Perut Bola sambil membetulkan hidung bola palsu berwarna merahnya.
“Baik, Badut Perut Bola!” balas Peri Hutan tersenyum manis sambil melambaikan tangannya pada badut yang terkenal dengan atraksi sepeda roda satunya itu.

Peri Hutan kembali berlarian kecil. sumringah sambil merentangkan kedua tangannya, mencoba memeluk matahari pagi, yang menyembul lewat sela-sela atap yang terbuat dari terpal.

“DWOOORRRR!!!!” teriak Kurcaci Semar Bogel tepat di telinga kanan Peri Hutan. kurcaci yang mirip tokoh wayang Semar ini memang bertubuh bogel. dan di Sirkus Borgetti, ia memang yang paling sering menjahili Peri Hutan.
“Kurcaci Semar Bogel!! Kau mengagetkanku saja!” keluh Peri Hutan sambil bersungut-sungut. jantungnya serasa mau copot. tapi Peri Hutan tak terlalu berlama-lama menenangkan diri. ia langsung berlarian kecil lagi, meninggalkan Kurcaci Semar Bogel yang tertawa terkekeh-kekeh dan menyusuri setiap sudut Sirkus Borgetti yang raksasa.

“Ehehe, Peri Hutan… Manis sekali dirimu pagi ini, ehehe…” gumam Kurcaci Mata Jereng sambil tersipu-sipu malu. ia lalu menyodorkan sekuntum bunga edelweiss kuning yang baru dipetiknya ke depan batang hidung Peri Hutan, sambil membetulkan kacamatanya dengan gugup.
“Waaaawwww, bunga edelweiss kuning! Terima kasih Kurcaci Mata Jereng, aku suka sekali!” seru Peri Hutan sambil berjinjit mengecup pipi kiri Kurcaci Mata Jereng.
Peri Hutan kemudian melanjutkan lari-lari kecilnya di sepanjang permadani warna-warni dengan corak Timur Tengah, sambil bersiul-siul lagu “Close To You” milik The Carpenters. meninggalkan Kurcaci Mata Jereng yang bersemu merah.
“Peri Hutan!” tiba-tiba terdengar suara Kurcaci Hijau memanggilnya dari belakang.
“Ya?” Peri Hutan menoleh dengan mata berbinar-binar, girang Kurcaci Hijau favoritnya memanggil.
tiba-tiba di depan wajahnya sudah ada tiga permen bulat warna-warni yang sebesar kepalanya.
“Ini untukmu, Peri Hutan…” seru Kurcaci Hijau.
“Huaaaaa….. Sebanyak ini???” tanya Peri Hutan megap-megap seperti kehabisan napas.
“Jika kau bisa menghabiskan ketiga permen ini dalam waktu tiga jam saja,” ujar Kurcaci Hijau sambil mengedipkan matanya.
“Bisa…bisaaa!!!!” ujar Peri Hutan, merentangkan tangannya untuk menyambut tiga permen bulat besar yang masih berada di genggaman Kurcaci Hijau yang bertubuh tinggi dan tegap. matanya ia pasang sebesar-besarnya, biar terlihat meyakinkan di depan si Kurcaci Hijau. padahal semua orang juga sudah tahu, kemampuannya yang tadi sudah maksimal.
“Hmmm… Ah untukmu dua saja deh!” goda si Kurcaci Hijau sambil menyembunyikan satu permen bulat warna-warni itu di balik punggungnya.
Peri Hutan kecewa sambil merajuk. melihat hal tersebut, kejahilan Kurcaci Hijau makin menjadi-jadi.
“Atau satu saja, ah! Hehehe…” katanya sambil buru-buru menghilang dari hadapan Peri Hutan. takut disambit oleh si peri sipit.
Peri Hutan tak berlama-lama kecewa. ia cukup puas dengan sebuah permen bulat besar warna-warni yang kini berada di genggaman kanannya. berpadu dengan bunga edelweiss kuning di tangan kirinya. hatinya semakin penuh.
“Halo Bibi Mollymimi! Selamat pagi!!!” seru Peri Hutan pada perempuan yang bertugas mengantarkan kostum para pemain sirkus ke binatu. ia memang tidak terlalu mengenal perempuan itu. tapi hari yang cerah ini rasanya belum lengkap kalau ia tidak menyapa semua orang yang ia jumpai.
“Selamat pagi! Aduh, kamu lucu sekali… Siapa namamu?” tanya Mollymimi yang segera menghentikan pekerjaannya karena disapa oleh Peri Hutan.
“Aku Peri Hutan, Bibi Mollymimi…” jawab Peri Hutan sambil tersenyum.
“Ah ya, ya… Peri Hutan. Selamat bersenang-senang, Peri Hutan yang manis. Dah…” ujar Mollymimi sambil melambaikan tangannya. melihat Peri Hutan, ia jadi teringat pada anak gadisnya yang sudah meninggal. hal ini membuatnya tanpa sadar menitikkan air mata, yang diam-diam ia hapus dengan ujung lengan bajunya.
Peri Hutan melanjutkan berlarian kecil di atas permadani sirkus tanpa alas kaki. masih dengan bunga edelweiss di tangan kiri dan permen bulat besar warna-warni di tangan kanan. hari ini ia mencintai semua yang ditemuinya, sebagaimana dirinya dicintai oleh Alam Semesta.



“You’ll be given love

You’ll be taken care of

You’ll be given love

You have to trust it

Maybe not from the sources

You’ve poured yours into

Maybe not from the directions

You are staring at
Twist your head around

It’s all around you

All is full of love

All around you

All is full of love...”

[All is Full of Love – Björk (Vespertine)]

Monday, June 25, 2007

Tantangan untuk Kembalinya Separuh Hati di Dalam Toples



belakangan mendung selalu menghiasi raut wajah si Peri Hutan yang manis. terkadang hidup ini bisa terasa sangat panjang dan membosankan ketika yang kita kerjakan hanya membunuh waktu setiap saat.

seperti sekarang, Peri Hutan sebenarnya tak mengerti apa yang membuat ia berjongkok di halaman depan rumah pohonnya, mencungkili tanah. yang ia tahu, ia melakukannya untuk menanam bibit bunga matahari yang barusan diberikan oleh si Serpina Sipirili. hanya supaya bibit itu tak sia-sia dan jadi berjamur disimpan di udara yang lembap akibat hujan terus-menerus di siang hari. untuk apa, ia tak terlalu mau tahu dan peduli.

Peri Hutan yang sedang asyik sendiri dengan sekop, cungkilan tanah, dan bibit bunga mataharinya terkejut bukan kepalang tatkala mendongak dan melihat toples berisi separuh hatinya, yang dulu ia titipkan pada Madame Lovètti, tersodor persis di depan batang hidungnya. sambil masih tetap berjongkok, ia memiringkan kepalanya ke kiri untuk melihat siapa yang membawa pulang separuh hatinya itu. persis seperti yang ia harapkan. dan Peri Hutan tersenyum lebar sambil memicingkan matanya, berusaha melawan sinar matahari yang beradu penampakan dengan penyelamat hatinya itu. puas dan penuh hatinya hari ini.

menit berikutnya ia sudah berada di padang ilalang bersama hati barunya. berbaring menikmati angin semilir, seperti sedia kala, dengan dirinya mendekap separuh hatinya di dadanya.

“Peri Hutan, lain waktu kupinjam kembali separuh hatimu, yah...” pinta si hati baru yang juga berbaring tepat di sebelah Peri Hutan. dalam hitungan detik, ia takkan menyangka kali ini Peri Hutan yang akan menyodorkan permainan padanya. menggantikan permainan layang-layang, gasing berputar, petak-umpet, dan tebak-tebakan yang dulu biasa mereka mainkan.

“Tidak bisa. Tidak semudah itu kau bisa mendapatkan separuh hatiku kembali. Kalau kau memang benar-benar menginginkannya, apa yang akan kau lakukan untukku?” tanya Peri Hutan dengan senyum licik, dihiasi oleh mata bulatnya yang berbinar-binar seperti kanak-kanak. gembira dan bersemangat karena permainan baru yang menarik.

“Aku... takkan mengganggu kehidupanmu selama setahun,” jawab si hati baru sambil tersenyum dan menatap Peri Hutan tajam. permainan yang menarik selalu memacu jantungnya berdegup lebih kencang. dan kali ini tantangannya jauh lebih menarik daripada apapun yang ada di dunia, termasuk kehidupan itu sendiri.

“Baiklah. Aku akan menunggumu di padang ilalang ini tepat satu tahun dari sekarang. Pada saat itu akan kupinjamkan lagi separuh hatiku padamu,” balas Peri Hutan seraya menatap si hati barunya itu lekat-lekat. puas dengan jawaban si hati baru.

“Sampai jumpa, Peri Hutan! Aku pasti akan kembali mengambil separuh hatimu. Tunggu saja...” seru si hati baru bergairah sambil beranjak pergi, meninggalkan Peri Hutan yang masih berbaring mendekap separuh hatinya di dalam toples, sambil tersenyum dengan mata terpejam. menikmati sinar matahari yang berpadu dengan semilir angin. sekaligus meresapi kehadiran hati barunya yang datang membawakan toples berisi separuh hatinya, untuk kemudian pergi lagi dengan tak lupa meninggalkan segudang harapan buat masa depan.

“He offers a handshake. Crooked, five fingers. They form a pattern. Yet to be matched
On the surface simplicity. Swirling black lilies totally ripe. But the darkest pit in me.
It's pagan poetry. Pagan poetry
Morsecoding signals. They pulsate and wake me up from my hibernate
....
I love him, I love him
....
This time I'm gonna keep me to myself. This time I'm gonna keep my all to myself
(She loves him, she loves him)
And he makes me want to hand myself over”
[Pagan PoetryBjörk (Vespertine)]

Friday, June 15, 2007

Stand By Me...



Made a meal and threw it up on Sunday
I’ve got a lot of things to learn.
Said I would and I'll be leaving one day
before my heart starts to burn

Peri Hutan kedatangan hati barunya di hutan bunga matahari. hati barunya yang telah lama menghilang, kini muncul di depan pintu rumah pohonnya di saat subuh, di mana orang-orang masih meringkuk di balik selimut dan ngelindur, dan embun pagi masih menempel lekat di daun, sama halnya dengan belek dan iler yang masih lekat menempel di mata dan bantal. dan Peri Hutan mengucek-ngucek matanya, tak percaya akan kunjungan tiba-tiba ini.

So what's the matter with you?
Sing me something new...don't you know
The cold and wind and rain don't know
They only seem to come and go away


semua perasaannya bercampur aduk, berbaur jadi satu. Peri Hutan sampai tak tahu lagi bagian mana yang lebih besar daripada yang lainnya. rasanya ingin sekali mendamprat, "kenapa baru datang sekarang??!!!" atau "tak pedulikah kau waktu itu aku nyaris mati tersungkur dari ayunan reyotku???!!!" tapi saat ini perasaan hatinya sudah tak karuan, jadi ia tak mau tambah merusaknya dengan berbuat hal-hal yang bodoh. maka alih-alih mendamprat si hati baru, ia hanya berkata datar, "tunggu sebentar, kuambil dulu jaketku."

Times are hard when things have got no meaning i've
I’ve found a key upon the floor
Maybe you and I will not believe in
the thing we find behind the door

Peri Hutan dan hati barunya berjalan menyusuri jalan setapak dalam gelap dan diam. sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Peri Hutan sibuk menerka-nerka maksud kedatangan si hati baru dan mengenang-ngenang keadaan di masa lalu yang terasa jauh lebih baik dibandingkan sekarang. sedangkan si hati baru entah sibuk memikirkan apa. mungkin sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang dimilikinya untuk menaklukkan dunia. atau bagaimana caranya menjadi seorang superhero, menggantikan Superman.

Stand by me, nobody knows the way it's gonna be
Stand by me, nobody knows the way it's gonna be
Stand by me, nobody knows the way it's gonna be
Stand by me, nobody knows
Yeah, nobody knows the way it's gonna be

tak berapa lama, mereka sampai di padang ilalang, tempat di mana mereka dulu biasa menghabiskan sore dengan duduk-duduk dan menonton sepotong senja yang lewat. hanya saja kali ini tanpa kambing-kambing ceking yang menemani. "Peri Hutan, apa perbedaan jenggot dan janggut?" tanya si hati baru.

If you're leaving will you take me with you?
I'm tired of talking on my phone
There is one thing I can never give you
My heart will never be your home

cukup sudah. permainan macam apa lagi yang akan ia dan hati barunya itu mainkan? Peri Hutan sudah capek meladeni permainan layang-layang, gasing berputar, petak-umpet, dan tebak-tebakan yang disodorkan oleh si hati baru. harus berapa karung keegoisan dan gengsi lagi yang ia dan hati barunya beli untuk memporak-porandakan semua yang selama ini mereka pikir mereka miliki?

So what's the matter with you?
Sing me something new...don't you know
The cold and wind and rain don't know
They only seem to come and go away


jika semuanya memang selalu datang dan pergi buat Peri Hutan, mengapa bukan ia saja yang pergi kali ini? toh sepertinya pengorbanan bukan jalan yang ia dan hati barunya pilih untuk saat ini.

Stand by me, nobody knows the way it's gonna be
Stand by me, nobody knows the way it's gonna be
Stand by me, nobody knows the way it's gonna be
Stand by me, nobody knows
Yeah, nobody knows the way it's gonna be
The way it's gonna be, yeah
Baby I can see, yeah

dan Peri Hutan berlari menyusuri jalan setapak yang gelap dan dingin, meninggalkan hati barunya yang masih menunggu jawaban apa bedanya jenggot dan janggut dari Peri Hutan di padang ilalang, sebelum malam benar-benar turun menyingkap air matanya yang berderai.


[*] Stand By Me – Oasis (Be Here Now)

***

Aku tak pernah ingin menyerah
Tapi masihkah berarti kalau kalah?

Waktu menyiram tubuh
Darah pun menjadi putih

Aku tahu saat untuk pasrah
meski jauh di dalam tanah,
kulambai dirimu dengan pedih

(Kulambai Dirimu, 14 Januari 1996 oleh Seno Gumira Ajidarma)